TIFF 2026 tak Sekadar Parade Bunga, BI Sulut Dorong UMKM, Investasi hingga Transaksi Digital

0
56

METROklik – Gemerlap warna-warni bunga kembali menghiasi Kota Tomohon. Ribuan pasang mata tertuju pada parade kendaraan hias Tournament of Flowers (TOF) yang menjadi salah satu agenda utama Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026, Sabtu (8/8/2026).

Namun di balik kemeriahan parade yang menyedot perhatian wisatawan tersebut, tersimpan agenda yang jauh lebih besar.

TIFF 2026 tidak hanya menjadi panggung promosi pariwisata, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk menggerakkan ekonomi lokal, memperkenalkan produk UMKM, membuka peluang investasi, hingga memperluas penggunaan transaksi digital.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan TIFF 2026.

Bagi BI Sulut, festival bunga internasional tersebut merupakan momentum strategis untuk mengangkat potensi komoditas bunga yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Tomohon.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto, mengatakan bunga bukan sekadar elemen dekorasi dalam TIFF. Komoditas tersebut merupakan bagian dari potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan lebih jauh, terutama melalui keterlibatan petani dan pelaku UMKM.

“Tomohon International Flower Festival 2026 tentunya event yang memanfaatkan komoditas lokal yang ada di sini, yaitu bunga. Tapi selain itu, ini juga merupakan momen untuk pengembangan UMKM yang ada di lapangan Babe Palar,” ujar Joko.

Menurutnya, kekuatan TIFF justru terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai sektor sekaligus. Pariwisata menjadi pintu masuk, sementara UMKM, pertanian bunga, perdagangan, ekonomi kreatif dan investasi menjadi bagian dari mata rantai ekonomi yang ikut bergerak.

Di sisi lain, BI Sulut juga melihat TIFF 2026 sebagai kesempatan untuk memperkenalkan potensi investasi Sulawesi Utara kepada dunia internasional.
Langkah tersebut dikaitkan dengan pelaksanaan North Sulawesi Investment Forum yang sebelumnya telah mempertemukan pemerintah dan calon investor untuk membahas berbagai peluang investasi di daerah.

Sejumlah duta besar internasional yang datang ke Sulawesi Utara turut diarahkan untuk melihat secara langsung berbagai potensi dan proyek investasi yang telah ditawarkan.

Joko mengatakan, kehadiran para perwakilan negara sahabat di Tomohon bukan sekadar untuk menyaksikan kemeriahan parade bunga. Mereka diharapkan dapat melihat langsung berbagai potensi daerah, mulai dari pariwisata hingga peluang investasi yang dapat dikembangkan.

“Kita rangkaikan dengan acara North Sulawesi Investment Forum. Para duta besar nanti juga kita ajak melihat proyek-proyek yang sebelumnya kita tawarkan,” jelasnya.

Menurut Joko, strategi tersebut penting karena promosi investasi tidak cukup hanya dilakukan melalui forum atau presentasi. Calon investor perlu melihat secara langsung potensi daerah, infrastruktur, sumber daya serta aktivitas ekonomi yang berkembang.

Di sinilah TIFF memiliki nilai strategis. Sebuah festival yang awalnya dikenal sebagai pesta bunga dan pariwisata, kini dapat menjadi etalase ekonomi Sulawesi Utara.

Sementara itu, perputaran ekonomi selama TIFF juga tidak berhenti di Kota Tomohon.
Meningkatnya kunjungan wisatawan selama festival memberikan dampak terhadap berbagai sektor pendukung, termasuk perhotelan, restoran, transportasi, perdagangan dan jasa.

Kota Manado dan Kabupaten Minahasa juga ikut merasakan dampak meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan selama rangkaian TIFF berlangsung.

Joko menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebuah event pariwisata berskala internasional dapat menciptakan efek domino yang luas.

“Ini sangat luar biasa karena akan menarik pariwisata yang jelas memiliki efek domino yang sangat luar biasa kepada pengembangan ekonomi di Tomohon, tetapi juga di Sulawesi Utara,” katanya.

Dengan demikian, TIFF tidak lagi sekadar dihitung dari jumlah wisatawan yang datang atau kemeriahan parade kendaraan hias. Keberhasilannya juga dapat diukur dari seberapa besar festival tersebut mampu menciptakan transaksi, membuka pasar baru bagi UMKM, memperluas promosi investasi dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

BI Sulut juga membawa agenda transformasi ekonomi digital.
Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus didorong selama pelaksanaan kegiatan.

“Masyarakat maupun pelaku usaha diharapkan semakin terbiasa menggunakan transaksi pembayaran digital yang praktis, cepat dan aman.
QRIS juga dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas selama festival, termasuk mendukung mekanisme pemungutan suara bagi peserta pameran,” jelas Joko.

Bagi BI, festival seperti TIFF merupakan ruang yang efektif untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan digital. Ribuan pengunjung yang hadir dapat sekaligus mengenal dan menggunakan sistem pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Pada akhirnya, TIFF 2026 menghadirkan wajah yang lebih luas dari sekadar pesta bunga. Di satu sisi, bunga-bunga lokal menjadi daya tarik utama yang menghiasi kendaraan dan panggung festival.

Di sisi lain, bunga tersebut menjadi simbol bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Dari petani bunga, pelaku UMKM, pedagang, hotel, restoran hingga sektor investasi dan ekonomi digital, semuanya berada dalam satu ekosistem yang bergerak bersama.

TIFF 2026 pun bukan hanya tentang bagaimana Tomohon memperlihatkan keindahan bunganya kepada dunia, tetapi juga tentang bagaimana keindahan itu diubah menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat Sulawesi Utara. (hence poli)

IMG-20260713-191945 IMG-20260526-215614 IMG-20260402-WA0079 iklan-HUT-prov

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here