Perempuan di Pucuk PWI Sulut, Sintya Bojoh Bawa Angin Perubahan

0
13

METROklik – Riuh tepuk tangan pecah memenuhi Aula Gedung Kantor Wali Kota Manado. Nama Sintya Bojoh pun bergema, menandai sebuah perubahan besar.

Ia terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Utara periode 2026–2031, sekaligus menjadi perempuan pertama yang menduduki posisi strategis tersebut sejak organisasi ini berdiri.

Riuh Demokrasi, Lahirnya Sejarah Konferensi PWI Sulut yang digelar pada Selasa, 31 Maret 2026 itu berlangsung dinamis. Suasana penuh semangat kebersamaan terasa sejak awal hingga akhir proses pemungutan suara. Para peserta konferensi, yang terdiri dari anggota aktif PWI, mengikuti setiap tahapan dengan antusias, mencerminkan kedewasaan demokrasi dalam tubuh organisasi wartawan tertua di Indonesia.

Ketika hasil penghitungan suara diumumkan, keunggulan Sintya tak terbantahkan. Ia meraih 145 suara, unggul cukup jauh dari dua kandidat lainnya, Merson Simbolon yang memperoleh 109 suara, serta Jhon Paransi dengan 4 suara. Kemenangan ini bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kepercayaan, harapan, sekaligus keberanian untuk melangkah ke arah baru.

Bagi banyak wartawan yang hadir, terpilihnya Sintya bukan hanya tentang pergantian kepemimpinan. Ini adalah momentum perubahan. Sosoknya dinilai membawa energi baru, perpaduan antara semangat muda, visi progresif, dan komitmen terhadap profesionalisme jurnalistik.

Di tengah tantangan dunia pers yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi digital, maraknya hoaks, hingga tuntutan independensi, kepemimpinan yang adaptif menjadi kebutuhan mendesak.

Dan Sintya dianggap menjawab kebutuhan itu. Momen ini sebagai “awal dari babak baru yang lebih segar dan inklusif”.

Regenerasi yang Dinanti

Selama ini, isu regenerasi kerap menjadi pembahasan di berbagai forum organisasi pers. Banyak pihak menilai bahwa keberlanjutan PWI sangat bergantung pada kemampuan melahirkan pemimpin baru yang mampu menjembatani pengalaman dan inovasi.

Kehadiran Sintya di pucuk kepemimpinan menjadi simbol nyata dari proses regenerasi tersebut. Ia tidak hanya mewakili generasi baru, tetapi juga membawa perspektif yang lebih luas, termasuk membuka ruang yang lebih besar bagi keterlibatan perempuan dalam dunia jurnalistik yang selama ini masih didominasi laki-laki.

Sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang, Persatuan Wartawan Indonesia memikul tanggung jawab besar dalam menjaga marwah profesi wartawan. Independensi, integritas, dan profesionalisme menjadi nilai-nilai yang harus terus dijaga.

Harapan besar kini tertuju pada kepengurusan periode 2026–2031 di bawah kepemimpinan Sintya. Tidak hanya untuk memperkuat soliditas internal organisasi, tetapi juga meningkatkan kompetensi anggota agar mampu bersaing di era media yang serba cepat dan kompetitif.

Lebih dari itu, PWI Sulut diharapkan tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kebebasan pers sebagai salah satu pilar utama demokrasi.

Terpilihnya Sintya Bojoh menjadi Ketua PWI Sulut bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tantangan yang lebih besar.

Jalan di depan tentu tidak mudah. Namun, dengan dukungan penuh dari anggota dan semangat kebersamaan yang telah terbangun, peluang untuk menciptakan perubahan nyata terbuka lebar.

Sejarah telah mencatat namanya. Kini, publik menanti bagaimana ia menorehkan karya. (hence)

iklan-HUT-prov

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here