Merinding, Ini Ritual di Watu Pinawetengan Setiap Awal Tahun

METROklik – Setiap awal tahun, selalu saja ada ritual di Watu Pinawetengan, di Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa. Ini terlihat juga di awal tahun 2020 ini. Banyak orang berkumpul di lokasi tersebut, dengan pakaian serba merah.

Dirangkum dari berbagai sumber, konon Watu Pinawetengan adalah tempat dimana wilayah dan suku Minahasa dibentuk oleh leluhur. Dulunya ini adalah tempat leluhur dotu-dotu Minahasa bermusyawarah atau untuk berunding dalam memutuskan sesuatu.

Batu ini kini banyak didatangi oleh sebagian oknum yang katanya untuk mengambil kekuatan seperti untuk perlindungan diri. Menurut keyakinan mereka, ritual yang mereka lakukan bukanlah untuk penyembahan terhadap berhala/ batu melainkan karena menghargai leluhur dotu-dotu Minahasa sekaligus meminta kebajikan dan perlindungan diri.

Dalam ritual, bahan-bahan berikut harus ada yaitu: telur ayam rebus, pinang, nasi bungkus, cap tikus, rokok, tawaang, kemenyan, dll. Dan semua jumlahnya harus 9 dari masing-masing bahan. Dalam ritual juga disertakan pisau/barang tajam lainnya, dan bunga popoopo.

Sementara ritual berlangsung akan ada arwah dari opo-opo terdahulu yang akan masuk ke dalam diri tonaas (yang paling ketua) di ritual tersebut. Lalu di dalam alam bawah sadar si tonaas tersebut, roh yang masuk dalam hal ini salah satu dari para dotu/opo akan berbicara lewat dirinya. Bahasa yang dilontarkan adalah bahasa makatana. Oleh sebab itu harus ada translater disana.

Setelah si tonaas sudah dimasuki oleh dotu, semua orang yang ada dalam ritual harus melakukan penyapaan kepada dotu seperti meberikan jabatan tangan dengan mengucapkan nama. Dalam bahasa yang dilontarkan oleh tonaas yang dimasuki oleh dotu akan ada amanat disana. Dan bagi mereka yang ingin meminta perlindungan diri, ia harus memberitahukannya kepada translater dan translater kepada dotu.

Setelah itu, dotu akan memakan pinang dan menyemburkannya kepada mereka yang meminta kekuatan lalu dengan memakai bunga popoopo akan di pukulkan di kepala mereka sebanyak 9 kali. Setelah itu, ritual berlangsung kepada proses mandi kabal di area yang tidak jauh dari batu tersebut.

Terkadang setelah proses mandi kabal selesai mereka melakukan atraksi seperti melakukan pengujian kepada mereka yang sudah meminta perlindungan diri dengan menusuk dengan pisau atau tombak atau barang tajam lainnya. Dan disana akan kelihatan bagi mereka yang ragu atau gugup tidak akan kebal terhadap barang tajam tersebut, tapi mereka yang terluka akan segera diobati oleh dotu dan dibuat yakin. [*]

Disadur dari berbagai sumber

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan