METROklik – Bank Indonesia (BI) menilai pengembangan kelapa perlu menyasar dua arah sekaligus, yakni peningkatan produktivitas di level petani serta penguatan hilirisasi dan diversifikasi produk olahan.
Hal ini dikatakan Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Utara, Purwanto pada kegiatan bincang Ekonomi Sulut terkait komoditas kelapa yang dilaksanakan di Hotel Four Points by Sheraton Manado itu, Kamis (30/07/2026).
Purwanto mengatakan, beberapa produk turunan yang disebut punya prospek cerah antara lain minyak kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), santan, nata de coco, hingga produk turunan lainnya.
“Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui penguatan produktivitas di sisi hulu, perluasan kapasitas pengolahan, diversifikasi produk, dukungan pembiayaan, serta penguatan akses pasar,” ujarnya.
Purwanto juga menyoroti tren ekspor sebagai indikator positif bagi industri kelapa Sulawesi Utara. Pada periode Januari–Mei 2026, ekspor kelompok produk HS-15 — yang mayoritas berbasis kelapa — tumbuh 5,89 persen dengan pangsa 73,48 persen, dengan Amerika Serikat, Tiongkok, dan Filipina sebagai pasar tujuan terbesar.
BI Sulut menaruh harapan besar agar forum ini melahirkan rekomendasi yang bisa dijadikan pijakan oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain dalam mengembangkan ekosistem kelapa secara utuh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Dengan sinergi yang semakin kuat, kelapa diharapkan menjadi komoditas unggulan yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” jelas Purwanto. (hep)









