METROklik – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara bergerak cepat menghadapi lonjakan harga cabai rawit atau rica yang mulai menekan inflasi daerah.
Sebanyak 2,4 ton cabai rawit asal Probolinggo, Jawa Timur, difasilitasi masuk ke Sulawesi Utara melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Langkah tersebut merupakan hasil koordinasi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Satgas Pangan Polda Sulawesi Utara untuk menutup kesenjangan pasokan cabai rawit di tengah penurunan produksi akibat kekeringan.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan intervensi tersebut dilakukan karena tekanan harga cabai rawit menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Sulut.
“Inflasi Sulawesi Utara pada Agustus 2026 tercatat 0,29 persen secara bulanan atau month to month (mtm), dengan inflasi kumulatif mencapai 3,68 persen (year to date/ytd),” kata Joko, Selasa (15/09/2026).
Angka tersebut, menurut dia, sudah melewati batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 3,50 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Tekanan terbesar berasal dari komoditas cabai rawit yang memberikan andil 0,33 persen terhadap inflasi Agustus secara bulanan. Kondisi tersebut masih berlanjut hingga September. Bahkan, harga cabai rawit asal Gorontalo yang menjadi salah satu sumber pasokan utama Sulut telah mencapai Rp140.000 per kilogram pada 11 September 2026.
Joko menjelaskan, kenaikan harga tidak terlepas dari penurunan produksi di daerah sentra pasokan, baik Gorontalo maupun sentra produksi lokal Sulawesi Utara.
“Kondisi cuaca turut memperburuk situasi. Data klimatologi menunjukkan curah hujan berada pada kriteria rendah di sebagian besar wilayah Sulut,” ujar Joko.
Sementara itu, hari tanpa hujan telah mencapai kategori sangat panjang di 131 lokasi dan bahkan kategori ekstrem di 12 lokasi. “Dengan masih terdapat empat bulan hingga akhir tahun serta periode HBKN Nataru yang perlu diantisipasi, kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama,” ucap Joko.
Menurut Joko, FDP merupakan instrumen intervensi jangka pendek untuk mengatasi kesenjangan pasokan akibat gangguan produksi dan tekanan cuaca.
Setelah mempertimbangkan harga, karakteristik cabai, ketersediaan pasokan hingga biaya distribusi, Probolinggo dinilai sebagai sumber pasokan yang paling memungkinkan.
Melalui pengaturan rantai distribusi serta pengawasan hingga tingkat eceran, harga cabai rawit di tingkat konsumen ditargetkan maksimal Rp57.000 per kilogram, sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP).
Pasokan 2,4 ton cabai rawit tersebut tiba di Manado pada Senin malam, 14 September 2026. Selanjutnya, cabai langsung disalurkan pada Selasa pagi, 15 September 2026, sehingga bisa tersedia ketika aktivitas perdagangan di pasar mulai berlangsung.
Joko menegaskan, intervensi ini bukan untuk menggantikan produksi petani lokal. “FDP tidak dimaksudkan untuk menggantikan produksi petani Sulawesi Utara, melainkan sebagai penyangga stabilisasi harga,” tegasnya.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Jemmy Ringkuangan, mengatakan distribusi cabai dari Probolinggo merupakan bentuk respons cepat pemerintah bersama TPID dalam menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Menurut Jemmy, sinergi antarinstansi harus terus diperkuat, terutama menghadapi tantangan cuaca dan ketergantungan Sulut terhadap pasokan pangan dari daerah lain.
Ia berharap langkah tersebut tidak berhenti pada intervensi jangka pendek. “Kolaborasi ini diharapkan juga berlanjut pada penguatan produksi lokal, mitigasi dampak El Niño, serta penguatan ketahanan pangan daerah,” kata Jemmy.
Untuk memastikan intervensi berjalan efektif, Dinas Ketahanan Pangan mendukung pengaturan distribusi ke titik-titik sasaran.
Sementara Satgas Pangan Polda Sulut melakukan pemantauan harga dan penyaluran untuk mencegah terjadinya kenaikan harga yang tidak wajar di tingkat eceran.
Dalam jangka menengah dan panjang, TPID Sulut akan mendorong penguatan produksi lokal, penyusunan kalender tanam serta peningkatan ketahanan pangan daerah.
Dengan demikian, FDP cabai rawit dari Probolinggo menjadi bagian dari strategi TPID Sulut untuk meredam tekanan harga saat pasokan terganggu, sembari tetap menjaga keberlanjutan produksi pangan dari petani lokal. (hep)









