METROklik – Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon mengambil langkah pencegahan dengan menutup dan membatasi sementara aktivitas pendakian di kawasan Gunung Lokon, Gunung Empung dan Gunung Mahawu.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan menghadapi potensi bencana, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi musim kemarau.
Langkah ini mengacu pada rekomendasi teknis Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara dan Pos Pengamatan Gunung Api PVMBG, serta arahan dan instruksi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Sulawesi Utara terkait pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tomohon, Hengky Supit, menegaskan bahwa penutupan jalur pendakian bukan bertujuan menghentikan aktivitas para pendaki maupun komunitas pencinta alam.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian untuk mencegah risiko yang dapat mengancam keselamatan jiwa sekaligus melindungi kawasan hutan dan ekosistem dari potensi kerusakan maupun kebakaran.
“Menutup jalur pendakian bukan berarti menghentikan kecintaan kita kepada alam. Justru dengan menahan diri, mematuhi ketentuan dan menjaga kawasan, kita sedang menunjukkan bahwa mencintai alam berarti juga menghormati keselamatan dan kelestariannya,” ujar Supit.
Untuk Gunung Lokon, kewaspadaan menjadi perhatian khusus karena gunung api tersebut saat ini berstatus Level II (Waspada). Berdasarkan rekomendasi PVMBG, masyarakat diminta menghindari aktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.
Sementara itu, Gunung Empung yang bukan merupakan gunung api aktif tersendiri berada dalam kawasan Cagar Alam Lokon-Empung. Secara geografis, Gunung Empung berada tepat di depan Kawah Tompaluan sehingga aktivitas di kawasan tersebut tetap harus mengikuti ketentuan konservasi dan batas keselamatan yang berlaku.
Adapun Gunung Mahawu saat ini berstatus Level I (Normal). Namun, kawasan tersebut merupakan hutan lindung yang harus tetap dijaga, terlebih pada musim kemarau ketika potensi kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat.
BPBD Kota Tomohon bersama pemerintah kelurahan dan kecamatan juga telah memasang sejumlah baliho peringatan sebagai bagian dari sosialisasi kepada masyarakat.
“Kami berharap rekan-rekan pencinta alam, para pemandu wisata dan masyarakat sekitar dapat membantu menyosialisasikan kebijakan ini,” kata Supit.
Ia menegaskan, penutupan jalur pendakian tersebut tidak dimaksudkan sebagai kebijakan permanen. Pemerintah berharap kondisi segera kembali normal sehingga aktivitas pendakian dapat dibuka kembali.
“Penutupan ini kami yakin tidak akan permanen. Kita berharap semua akan kembali normal dan pasti akan kami umumkan kembali untuk pembukaan jalur pendakian,” ujarnya.
Pemerintah Kota Tomohon mengajak masyarakat, komunitas pencinta alam, pemandu wisata dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan, mencegah karhutla, serta menjaga kawasan konservasi dan hutan lindung selama musim kemarau. (hep)









