Pelepasan Tim ERB 2026, terdiri personil BI Sulut dan TNI AL
METROklik – Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara bersama TNI Angkatan Laut memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar membawa dan menukarkan uang Rupiah.
Di balik perjalanan menuju pulau-pulau terluar Sulawesi Utara, terdapat misi untuk memastikan masyarakat di wilayah kepulauan tetap merasakan kehadiran negara.
Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto menegaskan, keberadaan tim ERB di pulau-pulau terluar merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan negara hingga ke wilayah yang secara geografis berada jauh dari pusat pemerintahan dan perekonomian.
Ia mengatakan, layanan Rupiah yang dibawa langsung ke masyarakat menjadi salah satu bentuk nyata perhatian negara terhadap masyarakat di wilayah 3T.
“Tim ERB tidak hanya membawa dan menukarkan Rupiah, tetapi juga membawa kehadiran negara hingga ke batas terluar di Indonesia,” pungkas Joko.
Menurut Joko, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terluar memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses terhadap layanan Rupiah. Karena itu, jarak, laut dan kondisi geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi pelayanan tersebut.
Melalui ERB, masyarakat tidak hanya mendapatkan kesempatan menukarkan uang yang sudah tidak layak edar. Tim juga membawa edukasi mengenai cara merawat Rupiah, mengenali keasliannya serta menumbuhkan kebanggaan menggunakan Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.
Makna kehadiran negara semakin terasa ketika layanan tersebut menyentuh langsung kehidupan masyarakat di pulau-pulau yang memiliki keterbatasan akses.
ERB 2026 akan berlangsung selama tujuh hari, 11 hingga 17 September, dengan menyambangi lima pulau di Sulawesi Utara, yakni Tagulandang, Karatung, Marore, Kalama dan Mahangetang.
Dengan dukungan TNI AL, perjalanan tersebut menjadi bagian dari sinergi untuk memastikan pelayanan Rupiah tidak berhenti di wilayah perkotaan, tetapi terus bergerak hingga ke pelosok dan batas terluar Indonesia.
Pada akhirnya, Rupiah yang dibawa dalam ekspedisi ini bukan hanya memiliki nilai ekonomi. Di wilayah perbatasan dan pulau terluar, keberadaannya juga menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun jaraknya, masyarakat tetap berada dalam jangkauan pelayanan negara. (hep)









