Heldi Bawole, Peduli Wilayah Perbatasan dan Wisata Mangrove

 

METROklik Manado – Perbatasan antara Kota Manado dan Minahasa Utara perlu diperhatikan lagi. Karena tidak ada tanda jalan yang jelas selain Gapura yang memisahkan antara Tiwoho dan Bahowo, dua kampung yang berada di titik ujung Manada dan Minahasa Utara ini.

Hal ini dikatakan Heldi Bawole penggagas gerakan perempuan tangguh, yang juga calon anggota legislatif untuk DPRD kota Manado.

“Bahowo sendiri merupakan bagian dari kelurahan Tongkaina yang merupakan juga akses masuk dari kecamatan Bunaken Kepulauan. Wilayah perbatasan di utara Manado ini bisa dikatakan kurang mendapat perhatian,” ujar dia.

Lanjut Heldi, Desa Tiwoho yang merupakan bagian dari Minahasa Utara dan berada dalam wilayah Kecamatan Wori, merupakan desa paling ujung yang berbaasan langsung dengan Kota Manado.

Walau begitu keseluruhan aktivitas hingga kegiatan belanja pasar desa ini tetap tertuju ke Kota Manado, tepatnya untuk kebutuhan ringan di Pasar Tuminting dan perbelanjaan yang besar ke Pasar Bersehatai.
“Bahkan warga juga sering mengeluhkan untuk jarak mengurus surat-surat yang berada jauh di Airmadidi Minahasa Utara,” ungkap Heldi.

Berbatasan langsung dengan Tiwoho adalah Bahowo sebutan untuk Lingkungan IV Kelurahan Tongkainan, Kecamatan Bunaken Kota Manado. Tidak seperti wilayah lain di kota Manado, untuk mencapai lokasi ini dengan kendaraan umum maka warga harus dua kali mengganti kendaraan dari pusat kota Manado.

“Warga terlebih dahulu harus mencari kendaraan yang melewati Pasar Tuminting dan kemudian berganti kendaraan menuju Bahowo ataupun Tongkaina yang tentunya merupakan dua rute yang kendaraanya pun berbeda,” ucap dia.

Selain batas wilayah yang perlu di perjelas, menurut srikandi ini, rambu-rambu lalu lintas dan penerangan jalan merupakan hal yang perlu diperhatikan, mengingat Kecamatan Bunaken juga terdapat hotel mewah maupun penginapan kelas menengah dengan pasar internasional. Sudah sepatutnya kelengkapan tersebut menjadi penunjang sarana dan prasarana umum yang ada di Kecamatan Bunaken, Kota Manado.

“Kecamatan Bunaken merupakan pintu masuk terdekat untuk berlabuh dari Bunaken Kepulauan namun amat disayangkan penataannya masih kurang maksimal,” sebutnya.

Heldi menambahkan, saat ini ada dua dermaga yang digunakan masyarakat umum. Pertama, adalah yang sering disebut Batu Meja, berada di ujung Tongkaina di samping salah satu hotel mewah, yang lokasinya harus melewati jalan yang agak terjal. Lokasi yang kedua adalah melewati kampong Bahowo atau Tongkaina Lingkungan IV, yang juga telah dibangun objek wisata Mangrove Bahowo.

Objek wisata mangrove ini sendiri dibangun dengan konsep modern dan mempergunakan bangunan beton padahal kita tahu bersama bahwa Objek wisata mangrove yang sedang berkembang di Indonesia Menganut Paham Ekowisata atau yang lebih dikenal dengan ekowisata mangrove. Dimana tidak menggunakan bahan beton atau kimia dalam membangun lokasi objek wisata mangrove.

“Walau belum begitu banyak orang yang berkunjung ke objek wisata mangrove ini, namun sudah menjadi salah satu alternative tempat berwisata di Kota Manado. Objek wisata Mangrove ini sendiri tidak banyak yang dapat diihat selain keindahan laut dan sedikit mangrove. Tempat ini lebih sering dijadikan tempat berkunjung anak muda ataupun sebagai tempat transit yang lebih dekat untuk berkunjung ke Pulau Bunaken,” paparnya.

“Kawasan Wisata Mangrove ini harusnya ditata lebih menarik sehingga dapat menarik wisatawan terutama lokal dan juga dapat menyediakan fasilitas olahraga air termasuk jasa penyeberangan ke Pulau Bunaken dan Siladen,” ungkapnya. (hgp)

Editor : Gaudentius

 

(Visited 24 times, 1 visits today)
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan