BI Dorong 84 Patua dan 144 Wanua, Produktif, Kompetitif, dan Berdaya Saing Tinggi

0
1414

METROklik – Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulut, mengharapkan 84 Patua (Petani Unggulan Sulawesi Utara) dan 144 Wanua (Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara) yang telah menyandang status certified, tidak hanya produktif, tetapi juga kompetitif dan berdaya saing tinggi.

“Saya ingin menyampaikan tiga pesan utama yang berjudul Menguatkan Potensi, Merajut Kolaborasi dan Membangun Negeri,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto saat hadir di kegiatan Apresiasi dan Penutupan Program Petani & Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (Patua Wanua) Tahun 2025 yang dilaksanakan di hotel Four Points Manado, Senin (02/11/2025).

Joko mengatakan, Sulut merupakan daerah yang kaya terhadap sumber daya dan potensi unggulan. Dari bumi yang subur, kekayaan hasil laut yang melimpah, hingga semangat masyarakat yang pantang menyerah, yang semuanya, menjadi modal besar untuk mewujudkan kemajuan ekonomi Sulawesi Utara. Namun demikian, potensi yang besar tidak akan berarti tanpa adanya penguatan kapasitas, kompetensi dan inovasi yang berkelanjutan.

“Inilah hal utama yang melatarbelakangi program Petani Unggulan Sulawesi Utara (Patua) dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (Wanua) sejak tahun 2020. Melalui program ini, kami terus berupaya memberikan nilai tambah terhadap potensi yang ada agar para petani dan pelaku usaha tidak hanya produktif, tetapi juga kompetitif dan berdaya saing tinggi, hingga di pasar nasional bahkan global,” kata Joko.

Program ini, lanjut dia, merupakan wujud nyata komitmen BI Sulut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang inklusif dan berkelanjutan sejalan dengan visi Bapak Gubernur.

Langkah kongkret ini diwujudkan
melalui 3 (tiga) strategi pengembangan UMKM secara end-to-end yang mencakup penguatan kelembagaan, melalui sosialisasi sertifikasi halal dan koperasi untuk memperkuat legalitas kelompok/pelaku usaha.

Kemudian penguatan daya saing melalui serangkaian pelatihan dan promosi perdagangan, serta eningkatan akses keuangan melalui kegiatan business matching bekerja sama dengan perbankan.

“Sepanjang tahun 2025, potensi para peserta Patua Wanua dikembangkan melalui berbagai tahapan, mulai dari open recruitment, assesment dan interview, bootcamp, company visit, hingga serangkaian pelatihan intensif yang terbagi dalam tiga tahap, mencakup praktek dan teori budidaya pertanian untuk Patua serta pembelajaran seputar mindset bisnis, onboarding digital, market analysis hingga strategi ekspor untuk Wanua,” jelasnya.

Selain itu, kegiatan promosi perdagangan produk UMKM dan hasil pertanian dilakukan melalui berbagai pameran, di antaranya Road To Fesyar dan Urban Economy Digifest di Manado, Sinergi North Sulawesi Investment Forum–Tomohon International Flower Festival (NSIF–TIFF) di Tomohon, Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta, Fesyar Kawasan Timur Indonesia di Pontianak, Internasional Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta dan pameran pertanian Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di Manado, hingga berbagai event lainnya guna memperluas akses pasar serta membuka peluang kolaborasi dan inovasi produk.

“Seluruh rangkaian kegiatan tersebut ditutup dengan acara pada hari ini yaitu apresiasi dan penutupan program Patua Wanua 2025,” ujarnya.

Joko menyatakan sangat bangga melihat para peserta mampu bertransformasi, mulai dari perubahan di sisi produk, proses hingga aspek people terutama terkait mindset petani dan pelaku usaha itu sendiri sebagai faktor terpenting dalam upaya untuk terus mengembangkan usahanya ke depan.

Selanjutnya, pada poin merajut kolaborasi, BI Sulut menyadari bahwa keberhasilan implementasi program ini tidak bisa lahir dari satu pihak saja yakni BI, namun juga membutuhkan dukungan dan kolaborasi yang erat antara BI dan pemerintah daerah, berbagai Kementerian/Lembaga, akademisi, asosiasi, tenaga pelatih dan pendamping, para kurator, lembaga keuangan, media serta mitra strategis lainnya yang turut andil dalam keberlangsungan program selama tahun 2025.

“Sinergi dan kolaborasi adalah kunci keberlanjutan. Kolaborasi antara petani dan pelaku usaha dengan berbagai mitra strategis akan membentuk ekosistem yang saling memperkuat dari hulu ke hilir,” tukasnya.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga membangun jejaring, menumbuhkan kepercayaan dan memperkuat semangat gotong royong. Karena hanya dengan bersatu, kita dapat melangkah lebih jauh untuk meraih hasil yang lebih besar. (hep)

iklan-HUT-prov

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here