METROklik – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut Joko Supratikto, memaparkan empat rekomendasi tindak lanjut yang harus segera dieksekusi oleh program Regional Investor Relations Unit (RIRU) Sulut tahun 2026, pada Dedicated Team Building Sulut Tahun 2026 di aula BI Sulut, Kamis (21/5/2026).
Empat rekomendasi tersebut meliputi :
- Peningkatan standar seleksi proyek investasi yang akan didorong pada tahun 2026.
- Refocusing prioritas investasi pada proyek-proyek yang sesuai dengan roadmap BKPM dan Danantara.
- Penguatan upaya debottlenecking untuk mengurai kendala struktural, khususnya terkait proses perizinan dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk proyek energi terbarukan.
- Penguatan mekanisme pelaporan pascapromosi yang lengkap, terstruktur, dan terintegrasi agar dapat diakses bersama oleh DPMPTSP Provinsi Sulut dan Bank Indonesia Sulut.
Joko mengatakan, kebijakan pusat tersebut, BI menyampaikan bahwa Regional Investor Relations Unit Sulut harus bergerak cepat melakukan adaptasi. RIRU Sulut direkomendasikan untuk memfokuskan ulang target investasinya pada empat sektor utama yakni, Hilirisasi, Ketahanan Pangan & Agroindustri, Energi Terbarukan, serta Kesehatan.
Meski memiliki prospek cerah karena sejalan dengan fokus nasional dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat, Joko tidak menepis adanya sejumlah tantangan struktural yang masih mengganjal di daerah.
”Kita masih menghadapi beberapa hambatan nyata di lapangan, seperti keterbatasan proyek yang benar-benar siap investasi (investment-ready), konversi minat investor yang belum optimal, serta kesiapan infrastruktur kawasan investasi yang belum merata,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, BI Sulut merumuskan strategi akselerasi investasi melalui penguatan pipeline proyek. Langkah ini bertumpu pada peningkatan kesiapan substansi, tindak lanjut investor, serta sinkronisasi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah. (hep)








