METROklik — Produk kain dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Sulawesi Utara mencuri perhatian pengunjung Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Memasuki hari terakhir pelaksanaan KKI di Jakarta International Convention Center (JICC), 23 Agustus 2026, kain produk UMKM Sulut laris diburu pengunjung.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara Joko Supratikto mengatakan, tingginya minat terhadap produk kain menjadi salah satu gambaran semakin kuatnya daya saing UMKM Sulut di pasar yang lebih luas.
KKI 2026 mengusung tema “Akselerasi Transformasi Digital UMKM: Integrasi Inovasi Digital Menuju UMKM Naik Level”. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang bagi UMKM daerah untuk memperkenalkan produk unggulan sekaligus memperluas akses pasar.
Menurut Joko, penguatan UMKM Sulut tidak hanya dilakukan melalui promosi dan perluasan pasar, tetapi juga dengan mendorong transformasi digital dalam proses bisnis.
Hingga Juli 2026, lebih dari 150 UMKM binaan BI Sulut telah terdigitalisasi melalui integrasi dengan platform e-commerce serta pencatatan keuangan menggunakan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK).
Digitalisasi tersebut dinilai mampu memperluas jangkauan pemasaran produk UMKM Sulut hingga pasar nasional dan global. Di sisi lain, pencatatan keuangan yang lebih tertib juga memperkuat kesiapan pelaku usaha dalam mengakses pembiayaan.
“Digitalisasi memperluas jangkauan pemasaran produk UMKM hingga pasar nasional dan global sekaligus memperkuat kesiapan mengakses pembiayaan,” ujar Joko.
Transformasi digital yang didorong BI Sulut juga mulai merambah sektor pertanian. BI mendorong kelompok tani binaannya untuk memanfaatkan teknologi guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha.
Joko menjelaskan, sebanyak enam kelompok tani binaan BI Sulut yang tergabung dalam PATUA telah mengadopsi konsep digital farming. Teknologi yang digunakan antara lain smart greenhouse dan drone sprayer untuk pengembangan komoditas cabai, bawang merah, dan padi.
“Sebanyak enam kelompok tani binaan BI Sulut yang tergabung dalam PATUA telah mengadopsi digital farming melalui pemanfaatan smart greenhouse dan drone sprayer untuk komoditas cabai, bawang merah, dan padi,” jelas Joko.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya menjadi instrumen untuk memperkuat pemasaran UMKM, tetapi mulai diterapkan dari sisi produksi. Dengan pemanfaatan teknologi, pelaku usaha diharapkan semakin adaptif, produktif, dan memiliki daya saing lebih kuat.
Keberhasilan kain UMKM Sulut menarik minat pengunjung KKI 2026 pun menjadi sinyal positif bahwa produk lokal memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas apabila didukung inovasi, digitalisasi, dan penguatan kapasitas usaha. (hep)









