Kegiatan Bincang Ekonomi bertajuk Outlook Ekonomi dan Prospek Usaha Sulawesi Utara
METROklik – Tekanan inflasi masih menjadi salah satu perhatian Bank Indonesia di tengah sejumlah indikator ekonomi Sulawesi Utara yang menunjukkan perkembangan positif.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara Joko Supratikto mengungkapkan, inflasi Sulut hingga Agustus 2026 tercatat 3,68 persen secara year to date (ytd).
“Angka tersebut menunjukkan tekanan harga masih perlu mendapat perhatian agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Joko Supratikto dalam Bincang Ekonomi bertajuk Outlook Ekonomi dan Prospek Usaha Sulawesi Utara, Rabu (16/9/2026) di Manado.
Menurut Joko, pengendalian inflasi menjadi bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pasalnya, kenaikan harga yang tidak terkendali dapat memberikan tekanan terhadap masyarakat, khususnya melalui penurunan daya beli.
Karena itu, stabilitas harga menjadi salah satu faktor yang perlu terus dijaga seiring dengan penguatan aktivitas ekonomi.
Kondisi inflasi tersebut menjadi tantangan di tengah sejumlah indikator ekonomi Sulut yang masih menunjukkan kinerja positif.
Ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh 5,42 persen secara tahunan (yoy). Aktivitas perdagangan eceran Kota Manado juga menguat, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 tumbuh 24,7 persen yoy.
Di sisi dunia usaha, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia juga menunjukkan kegiatan usaha diprakirakan menguat pada triwulan III 2026.
Dengan kondisi tersebut, pengendalian inflasi menjadi semakin penting agar peningkatan aktivitas ekonomi tidak disertai tekanan harga yang berlebihan.
Joko menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan stabilitas harga, sehingga daya beli masyarakat serta aktivitas dunia usaha tetap terjaga. (hep)









