Penulis : Hence Poli (dari berbagai sumber)
DI balik perjalanan Martha Tilaar membangun bisnis kecantikan yang dikenal luas di Indonesia, tersimpan kisah cinta yang bermula dari bangku kuliah.
Pertemuannya dengan seorang pria asal Minahasa, Sulawesi Utara, bernama Henry Alexis Rudolf Tilaar atau lebih dikenal sebagai Alex Tilaar, menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Martha Tilaar, yang lahir dengan nama Martha Handana di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937, pertama kali bertemu Alex ketika menempuh pendidikan di IKIP Jakarta.
Saat itu, Martha berstatus mahasiswi, sedangkan Alex merupakan dosennya.
Alex adalah putra Minahasa yang dikenal memiliki kecerdasan akademis.
Bagi Martha, daya tarik pria tersebut bukan semata-mata penampilannya, melainkan juga kepintaran dan wawasannya.
Dalam autobiografinya, Dari Gombong Desaku Berkumandang di United Nations, New York, Martha pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap Alex.
Ia mengaku terpikat oleh ketampanan sang dosen, tetapi lebih menghargai kecerdasannya. Pertemuan di lingkungan kampus itu kemudian berkembang menjadi hubungan cinta yang mengantarkan keduanya ke jenjang pernikahan.
Martha berasal dari Gombong, Jawa Tengah, sementara Alex memiliki akar budaya Minahasa, Sulawesi Utara. Perbedaan latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka sebagai pasangan yang ideal dan harmonis.
Menurut pemberitaan iNews, keduanya mulai berkenalan sekitar 1959. Hubungan mereka dijalani selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah pada 12 Januari 1964.
Kisah cinta mereka tidak hanya diwarnai romantisme, tetapi juga perjuangan dan pengorbanan. Setelah menikah, Alex memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat.
Keputusan tersebut membawa pasangan muda ini memasuki fase kehidupan baru yang menuntut penyesuaian, termasuk menghadapi keterbatasan ekonomi dan menjalani kehidupan jauh dari tanah air.
Bagi Martha, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses menemukan jalan hidupnya sendiri.
Di Amerika Serikat, ia mendalami ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana.
Sebelum kembali ke Indonesia, Martha bahkan sempat membuka praktik salon kecil untuk mendapatkan pengalaman sekaligus membangun keterampilan usahanya.
Dukungan Alex turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ia mendorong Martha mengembangkan bakatnya di bidang kecantikan, yang kemudian menjadi fondasi bagi usaha besar yang dibangunnya.
Sekembalinya ke Indonesia, Martha tidak langsung memiliki perusahaan besar. Ia memulai usahanya dari sebuah garasi rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter di kawasan Menteng, Jakarta, pada 1970.
Di tempat sederhana itulah Martha membuka Martha Salon. Dengan mengandalkan keterampilan, pelayanan personal, dan ketekunan, ia mulai membangun kepercayaan pelanggan.
Usaha yang dirintis dari ruang kecil tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya di industri kecantikan.
Tujuh tahun kemudian, pada 1977, Martha bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady mendirikan PT Martina Berto. Pada tahun yang sama, lahir merek Sariayu yang mengangkat kekayaan alam dan tradisi perawatan kecantikan Nusantara.
Martha melihat bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan produk kecantikan berbahan alami. Pengetahuan tradisional tentang tanaman dan perawatan tubuh menjadi inspirasi untuk menciptakan produk yang dapat diterima konsumen modern.
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi identitas bisnis yang menghubungkan kecantikan, budaya, dan kekayaan alam Indonesia.
Dukungan Suami di Balik Perjalanan Bisnis Martha
Kesuksesan Martha Tilaar tidak dapat dilepaskan dari kerja kerasnya membangun usaha. Namun, perjalanan hidupnya juga memperlihatkan arti penting dukungan pasangan hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan.
Alex bukan hanya suami Martha, tetapi juga seorang akademisi yang menaruh perhatian pada pendidikan dan pengembangan pengetahuan.
Ia dikenal mendukung langkah istrinya serta mendampinginya dalam berbagai kesempatan. Martha dan Alex menjalani kehidupan pernikahan selama lebih dari lima dekade.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat anak, yakni Bryan Emil Tilaar, Pinkan Tilaar, Wulan Tilaar, dan Kilala Tilaar.
Hubungan keduanya menjadi kisah tentang bagaimana kehidupan keluarga dan perjalanan profesional dapat berjalan beriringan melalui dukungan, kepercayaan, dan komitmen.
Alex meninggal dunia pada 30 Oktober 2019 dalam usia 87 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, sekaligus kenangan tentang sosok yang selama puluhan tahun mendampingi Martha dalam kehidupan pribadi maupun perjalanan usahanya.
Melalui Martha Tilaar Group, Martha terus mengembangkan gagasan bahwa tradisi dan kekayaan alam Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi bagi industri kecantikan.
Semangat Local Wisdom Go Global menjadi cerminan upayanya membawa kearifan lokal ke pasar yang lebih luas. Produk kecantikan tidak hanya dipandang sebagai barang komersial, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan identitas budaya Indonesia.
Perjalanan Martha dari seorang mahasiswi yang jatuh hati kepada dosen asal Minahasa, kemudian menimba ilmu kecantikan di Amerika Serikat, hingga merintis salon sederhana dan mengembangkan perusahaan kosmetik, memperlihatkan rangkaian pengalaman yang membentuk perjalanan hidupnya.
Kisah ini juga memperlihatkan bahwa di balik sebuah usaha besar terdapat proses panjang, kesempatan yang dimanfaatkan, serta orang-orang yang memberikan dukungan sepanjang perjalanan.
Dari pertemuan di bangku kuliah hingga membangun keluarga dan menjalani kehidupan bersama selama puluhan tahun, Martha dan Alex Tilaar meninggalkan kisah yang menghubungkan cinta, pendidikan, dan kewirausahaan.
Sementara Martha dikenal melalui kiprahnya mengembangkan industri kecantikan Indonesia, Alex dikenang sebagai akademisi asal Minahasa yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Warisan Martha Tilaar pun melampaui produk kosmetik. Ia meninggalkan inspirasi tentang keberanian membangun usaha dari nol, sementara kisahnya bersama Alex mengingatkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan sering kali turut diwarnai dukungan dan perjuangan bersama.
Kini Martha telah menyusul suaminya. Dia dipanggil Tuhan pada 14 Oktober 2026 pada usia 89 tahun. (*)









