Marie Thomas, Putri Minahasa, Ukir Sejarah sebagai Dokter Perempuan Pertama Indonesia

0
11

Penulis : Hence Poli

METROklik – Dari tanah Minahasa, Sulawesi Utara, lahir seorang perempuan pelopor yang mendobrak batasan zaman.

Marie Thomas membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu menempuh pendidikan tinggi, menguasai ilmu kedokteran, dan mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan sesama.

Kisah hidupnya merupakan gambaran tentang keberanian melawan keterbatasan, semangat belajar, dan pengabdian kepada masyarakat pada masa ketika kesempatan perempuan untuk mengenyam pendidikan tinggi masih sangat terbatas.

Marie Thomas lahir pada 17 Februari 1896 di Likupang, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia berasal dari keluarga yang hidup pada masa pemerintahan Hindia Belanda, ketika akses pendidikan bagi perempuan pribumi belum terbuka luas.

Pada masa itu, kesempatan bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan hingga tingkat tinggi masih sangat terbatas. Apalagi untuk memasuki pendidikan kedokteran, yang membutuhkan waktu belajar panjang, disiplin tinggi, serta kemampuan akademik yang kuat.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah Marie. Ia berhasil memasuki School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sekolah pendidikan dokter bagi penduduk pribumi di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta.

STOVIA menjadi salah satu lembaga penting dalam sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia. Dari sekolah inilah lahir banyak tenaga medis pribumi yang kemudian berperan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Bagi Marie Thomas, kesempatan belajar di STOVIA merupakan pintu menuju cita-cita yang tidak lazim bagi perempuan pada zamannya. Ia harus membuktikan bahwa kemampuan dan ketekunan tidak ditentukan oleh jenis kelamin.

Pada 1922, Marie Thomas menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan memperoleh gelar dokter. Pencapaian itu menjadikannya dikenal sebagai perempuan Indonesia pertama yang berhasil menjadi dokter.

Keberhasilannya memiliki arti penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Nusantara. Marie bukan hanya meraih prestasi pribadi, melainkan juga membuka jalan simbolis bagi perempuan lain untuk memasuki profesi yang sebelumnya sulit mereka jangkau.

Di tengah kuatnya batasan sosial pada masa kolonial, keberhasilan Marie memperlihatkan bahwa perempuan pribumi dapat menguasai ilmu pengetahuan modern dan mengambil peran langsung dalam pelayanan publik.

Gelar dokter yang diraihnya bukanlah akhir perjalanan. Justru di situlah dimulai pengabdian panjangnya kepada masyarakat.

Ia tercatat bekerja dalam pelayanan kesehatan, termasuk di wilayah Batavia dan daerah lain di Hindia Belanda.

Pada masa itu, tantangan kesehatan masyarakat sangat besar. Fasilitas medis belum merata, akses pengobatan masih terbatas, sementara perempuan dan anak-anak membutuhkan perhatian khusus dalam pelayanan kesehatan.

Marie dikenal memiliki perhatian terhadap kesehatan perempuan, terutama kebidanan. Bidang ini sangat penting karena keselamatan ibu dan bayi menjadi persoalan besar ketika akses terhadap tenaga kesehatan terlatih masih terbatas.

Keahliannya dalam dunia medis memperlihatkan bahwa kehadiran perempuan sebagai dokter bukan hanya persoalan kesetaraan kesempatan, tetapi juga kebutuhan nyata masyarakat.

Bagi perempuan yang menghadapi persoalan kesehatan reproduksi atau kehamilan, kehadiran tenaga medis perempuan dapat menjadi pilihan yang penting.

Dalam konteks itulah, kiprah Marie memiliki arti lebih luas daripada sekadar pencapaian akademik.

Marie Thomas juga dikaitkan dengan perkembangan pelayanan kesehatan di Indonesia pada masa awal abad ke-20. Ia menjalani profesi kedokteran ketika masyarakat masih berada dalam sistem kolonial dan kesempatan memperoleh layanan kesehatan belum merata.

Namanya turut dikenang dalam perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan. Ia kemudian mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 1950.

Langkah tersebut menunjukkan perhatiannya terhadap kebutuhan tenaga kesehatan, khususnya bidan, yang berperan penting dalam keselamatan ibu dan anak.

Kiprah ini memperlihatkan bahwa pengabdian Marie tidak berhenti pada keberhasilannya menjadi dokter. Ia turut memberi perhatian pada pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan.

Di tengah kebutuhan masyarakat akan tenaga medis yang terampil, pendidikan kebidanan menjadi salah satu bagian penting untuk memperluas akses pelayanan kesehatan bagi perempuan dan keluarga.

Bagi masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara, Marie Thomas merupakan salah satu tokoh perempuan yang patut dikenang. Dari daerah di ujung utara Pulau Sulawesi, ia menorehkan prestasi yang melampaui batas wilayah dan zamannya.

Kisahnya juga memperlihatkan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk mengubah kehidupan. Ketika perempuan pribumi masih menghadapi berbagai hambatan, Marie berani memasuki dunia pendidikan kedokteran dan membuktikan kemampuannya melalui profesi yang dijalaninya.

Warisan Marie tidak hanya terletak pada gelar sebagai dokter perempuan pertama Indonesia. Lebih dari itu, ia menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan perempuan untuk memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan dan pekerjaan profesional.

Ia menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari keberanian seseorang mengambil langkah pertama, meskipun jalan yang ditempuh belum pernah dilalui banyak orang sebelumnya.

Marie Thomas meninggal dunia pada 10 Oktober 1966. Namun, namanya tetap hidup dalam sejarah kedokteran Indonesia dan perjalanan emansipasi perempuan. (*)

IMG-20260713-191945 IMG-20260526-215614 IMG-20260402-WA0079 iklan-HUT-prov

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here