Ini Kisah Tijn “Sang Malaikat” Kecil

0
228

METROklik – Ada seorang anak berkebangsaan Belanda, bernama Tijn Kolsteren (5). Suatu saat dia merasa tidak  enak badan dan mual. Suhu badannya naik mencapai 41 derajat.

Setelah ke dokter dan RS, Tijn divonis menderita kanker ganas di otaknya. Dokter mengatakan bahwa kemo bisa dilakukan untuk memperpanjang usianya 1 atau 2 tahun. Orang tua Tijn tentu saja merasa sedih. Si pasien sendiri tetap saja cerah ceria.

Pada saat kemo yang pertama di RS, Tijn bertanya kepada dokter, “Apakah banyak anak yang menderita seperti saya dok?”. “Iya… “kata dokter. Di seluruh dunia ada saja anak-anak  kecil yang menderita seperti dia. Tetapi tidak semua anak bisa ke dokter.

“?????”.. tanda tanya muncul di benaknya. Dokter menjelaskan,  bahwa tidak setiap anak mempunyai orang tua kaya. Di negara-negara  miskin banyak dari mereka yang menderita menunggu kematiannya.

Setiba di rumah, Tijn bilang kepada ortunya:  “Papa, saya harus bekerja mencari uang untuk membantu anak anak yang sakit kanker otak.”

Papa Tijn tertawa terharu dan tidak menggubris ucapannya. Besoknya, Tijn ke sekolah ijin kepada ibunya ke sekolah dengan membawa kuteks (cat kuku mamanya.)

Di kelas dia berusaha mencari dana dgn cara mengecat ke-10 jari teman-teman denagn upah € 1 ( = Rp 15.000).  Hasilnya dimasukan ke kotak roti yang besar. Semua dananya akan disumbangkan untuk anak anak yang tidak mampu yang menderita kanker otak.

Ternyata teman temannya menyukai aksi ini. Besoknya, murid-murid kelas lain pun minta dicat kuku-kuku jari tangan mereka.

Singkat cerita, usahanya mengumpulkan dana makin populer. Orang tua Tijn menjadi terharu.  Suatu hari, orang tua Tijn membuatkan  rumah kaca di depan  rumahnya (karena semakin banyak yang datang ke rumah kecil mereka). Di rumah kaca ini, sepulang sekolah Tijn melakukan pengecatan kuku dengan kuteks.

TV terkenal di Belanda mendengar aksi ini dan mendokumentasikannya.  Sejak itu, datanglah orang-orang dari berbagai kota juga para selebritis untuk menyumbang uang Donasi.

Tetapi jangan lupa.. Tijn baru berusia 5 tahun dan dalam kondisi sakit. Para donatur tahu diri. Banyak yang datang dan bilang: “Cat 1 jari saja ya Nak. Ini uang € 100.” Bahkan para selebriti dan pejabat yang datang memberi € 1.000 untuk kutek 1 kuku jari mereka.

Bulan berganti bulan… Mulai thn 2016 sampai bulan Mei 2017, jumlah uang yg terkumpul sekitar € 2.800.000  × @ Rp 15.000.= 42 milyar.

Saat ini, semua uang sdh diserahkan ke Palang Merah Belanda. Hal ini sesuai dgn keinginan Tijn. “Uang ini semuanya harus diberikan ke anak-anak miskin yang menderita kanker otak”

Pada tgl 8 Juli 2017 di pagi hari, Tijn meninggal dunia di rumahnya. Tijn hanya mencapai usia 6 tahun tetapi namanya dikenang orang sepanjang masa.

Dengan usianya yang singkat Tijn mampu membuat hidupnya berarti. Hidup ini bukan untuk menjadi kaya, melainkan bagaimana menjadi berkat karena Kasih Tuhan. (*)

Sumber : Redaksiindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here