METROklik – Untuk menstabilkan harga pangan, maka penguatan kapasitas produksi, pemerataan distribusi pasokan antarwilayah, serta optimalisasi rantai pasok pangan sangat diperlukan.
Hal ini sebagaimana dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulut, Joko Supratikto pada High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) tahun 2026.
“Sementara pada aspek kelancaran distribusi, dilakukan penguatan koordinasi dan monitoring harga pangan bersama instansi terkait seperti biro ekonomi dan dinas ketahanan pangan daerah,” terang Joko.
Dia menjelaskan, adapun pada aspek komunikasi efektif, TPID Bolsel rutin melaksanakan High Level Meeting dan capacity building guna meningkatkan kemampuan pengendalian harga.
“Selain itu, menjelang HBKN Idul Adha juga bisa didorong ajakan bijak belanja agar tidak terjadi penimbunan maupun belanja secara berlebihan agar harga tetap terkendali,” tambahnya.
Sejalan dengan program GPIPS, BI Sulut juga terus memperkuat ketahanan pangan melalui program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA).
Sepanjang periode 2020–2025, tercatat sebanyak 84 petani unggulan dan 144 UMKM unggulan pada berbagai komoditas strategis, khususnya bawang, rica, tomat dan padi.
Namun dari jumlah tersebut, baru satu petani unggulan berasal dari Bolaang Mongondow Selatan, yakni Poktan Metafora yang fokus pada budidaya cabai rawit serta komoditas lain seperti pala dan kelapa.
“Kami berharap Bapak/Ibu anggota TPID Bolsel dapat menggaungkan program PATUA sehingga meningkatkan partisipasi kelompok petani komoditas strategis yang pada akhirnya dapat memperkuat basis sentra produksi,” ungkapnya. (hep)








