Ekonomi Sulut Tumbuh 5,42 Persen, Dunia Usaha Makin Optimistis

0
9

METROklik – Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Bank Indonesia mencatat ekonomi Sulut pada triwulan II 2026 tumbuh 5,42 persen secara tahunan (yoy).

Kondisi tersebut dibarengi dengan sejumlah indikator yang menunjukkan aktivitas konsumsi dan dunia usaha tetap bergerak positif.

Data ini dipaparkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara Joko Supratikto dalam Bincang Ekonomi bertajuk Outlook Ekonomi dan Prospek Usaha Sulawesi Utara, Rabu (16/9/2026) di Manado.

Menurut Joko, ketahanan ekonomi daerah tercermin dari kinerja berbagai sektor, termasuk pertanian, perdagangan, industri pengolahan, transportasi dan konstruksi.

“Data yang baik bukan sekadar angka. Data menjadi dasar bagi kebijakan yang tepat waktu, tepat sasaran dan berdampak,” demikian poin yang ditekankan dalam paparan BI Sulut.

Salah satu sinyal positif datang dari sektor perdagangan eceran. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) Kota Manado pada Juli 2026 mencapai 191,3.

Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Secara bulanan, IPR tumbuh 6,1 persen, sedangkan secara tahunan mencapai 24,7 persen. Kinerja tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi Sulawesi Utara.

Menariknya, survei juga menunjukkan ekspektasi tekanan harga ke depan cenderung mereda. Indeks Ekspektasi Harga (IEH) untuk tiga bulan mendatang atau September diprakirakan berada pada 145,8, sedangkan ekspektasi enam bulan mendatang atau Desember sebesar 179,2.

Dari sisi pelaku usaha, Bank Indonesia menangkap sinyal perbaikan aktivitas ekonomi. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan kegiatan usaha diprakirakan melonjak hingga 46,49 persen pada triwulan III 2026.

“Peningkatan aktivitas tersebut antara lain didorong berlanjutnya musim panen dan aktivitas perikanan, terjaganya permintaan masyarakat, serta dampak penurunan curah hujan yang mendorong kenaikan aktivitas pertambangan,” jelas Joko.

Gambaran ini menunjukkan pelaku usaha masih melihat ruang ekspansi meskipun perekonomian menghadapi berbagai tantangan.

Ketahanan ekonomi Sulut juga tercermin dari kinerja intermediasi perbankan.
Hingga Juli 2026, kredit perbankan tumbuh 3,08 persen yoy, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,08 persen yoy.

Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 156,71 persen, menunjukkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan kuat. Sementara rasio kredit bermasalah atau NPL berada pada 2,77 persen, dengan kualitas kredit yang masih terjaga.

Data tersebut memperlihatkan perbankan tetap menjadi salah satu sumber pembiayaan bagi aktivitas ekonomi daerah.

Joko mengatakan, sektor properti juga memperlihatkan kondisi yang relatif stabil.
Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Kota Manado pada triwulan II 2026 tercatat 113,2, atau meningkat 0,36 persen secara kuartalan (qtq).

Kenaikan harga rumah masih berlangsung pada berbagai tipe. Harga rumah tipe kecil tumbuh 0,22 persen yoy, tipe menengah 0,11 persen, dan tipe besar 0,21 persen.

Stabilnya harga properti tersebut dinilai mencerminkan permintaan hunian yang tetap terjaga sekaligus mendukung aktivitas sektor konstruksi.

Di tengah berbagai indikator positif tersebut, Joko mengingatkan bahwa tekanan inflasi tetap perlu diwaspadai.
Inflasi Sulawesi Utara hingga Agustus 2026 tercatat 3,68 persen secara year to date (ytd). Angka ini menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. (hep)

IMG-20260713-191945 IMG-20260526-215614 IMG-20260402-WA0079 iklan-HUT-prov

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here