METROklik — Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memperberat tekanan pasokan cabai rawit atau rica di Sulawesi Utara. Curah hujan yang rendah di sebagian besar wilayah Sulut mulai berdampak terhadap produksi komoditas pangan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan kondisi klimatologi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ketersediaan pangan sekaligus perkembangan harga di pasaran.
“Data klimatologi menunjukkan curah hujan berada pada kriteria rendah di sebagian besar wilayah Sulut,” kata Joko.
Kondisi minim hujan tersebut terjadi ketika pasokan cabai rawit memang sedang mengalami tekanan. Produksi di sejumlah sentra, baik di Sulawesi Utara maupun daerah pemasok dari luar daerah, mengalami penurunan.
Situasi ini kemudian berpotensi menciptakan kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat.
Tekanan terhadap komoditas rica menjadi perhatian TPID Sulut karena cabai rawit merupakan salah satu komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi daerah.
Untuk merespons gangguan pasokan tersebut, TPID Sulut melalui koordinasi BI, Pemerintah Provinsi Sulut dan Satgas Pangan Polda Sulut melakukan intervensi melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Sebanyak 2,4 ton cabai rawit dari Probolinggo, Jawa Timur, didatangkan ke Manado sebagai pasokan penyangga.
Joko menjelaskan, FDP merupakan instrumen intervensi jangka pendek untuk mengatasi kesenjangan pasokan yang terjadi akibat gangguan produksi dan tekanan cuaca.
Namun, intervensi pasokan dari luar daerah bukan solusi permanen. Dalam jangka menengah dan panjang, penguatan produksi lokal, pengaturan kalender tanam dan peningkatan ketahanan pangan menjadi langkah penting untuk menghadapi risiko gangguan produksi akibat kondisi cuaca.
TPID Sulut juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan pasokan dan harga pangan untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari kondisi klimatologi tersebut.
Dengan kondisi curah hujan yang masih rendah, pengamanan pasokan pangan menjadi semakin penting agar gangguan produksi tidak berkembang menjadi tekanan harga yang lebih besar bagi masyarakat. (hep)









