METROklik – Tingginya konsumsi cabai masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) menjadi perhatian serius Bank Indonesia (BI).
Pasalnya, kebutuhan cabai di daerah ini mencapai tiga hingga empat kali lipat dibandingkan rata-rata konsumsi nasional.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan cabai.
Terlebih, produksi cabai di Sulawesi Utara belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sementara cuaca ekstrem turut menekan hasil panen di sejumlah sentra produksi.
Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara bersama Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado, dan Kabupaten Minahasa Utara menginisiasi Gerakan Tanam Cabai di Pekarangan Rumah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa cabai merupakan salah satu komoditas penting yang memiliki pengaruh terhadap pergerakan inflasi daerah karena tingginya konsumsi masyarakat.
“Situasi diperparah oleh cuaca ekstrem yang menekan produksi, baik di Manado maupun di sentra-sentra lainnya, sehingga pasokan menjadi langka dan harga melonjak,” ungkap Joko saat kegiatan sosialisasi Gerakan Tanam Cabai di Kantor BI Sulawesi Utara, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah mendorong masyarakat memproduksi cabai secara mandiri dengan memanfaatkan pekarangan rumah.
Melalui gerakan ini, masyarakat tidak harus memiliki lahan luas. Pekarangan sempit sekalipun dapat dimanfaatkan dengan menggunakan pot atau wadah sederhana sebagai media tanam.
“Dengan begitu, kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi secara mandiri tanpa bergantung pada daerah lain, sekaligus membantu menjaga kecukupan suplai cabai di Sulawesi Utara,” jelasnya.
Joko menambahkan, hasil panen cabai nantinya dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga, termasuk sebagai bahan membuat sambal dabu-dabu yang menjadi salah satu kuliner khas masyarakat Sulawesi Utara.
Bahkan, masyarakat juga dapat mengombinasikan tanaman cabai dengan tomat agar pemanfaatan pekarangan semakin produktif.
“Pada tahap awal, gerakan ini menyasar masyarakat Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara dengan dukungan 130 bibit cabai sebagai pemicu,” ucap Joko.
BI bersama TP PKK selanjutnya akan melihat perkembangan dan kebutuhan di lapangan. Jika diperlukan, tambahan bibit akan disediakan sesuai kreativitas dan permintaan PKK di masing-masing daerah.
Program ini disosialisasikan melalui lomba video edukatif tentang budidaya cabai, mulai dari pembibitan, perawatan hingga proses panen. Dengan cara tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya belajar menanam, tetapi juga dapat berbagi pengalaman dan menginspirasi keluarga lainnya.
Wakil Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Merry Mailangkay Kalalo, menyambut positif gerakan tersebut. Ia menilai pemanfaatan pekarangan merupakan langkah nyata memperkuat kemandirian pangan keluarga.
Menurutnya, cabai merupakan kebutuhan rumah tangga yang hampir selalu tersedia dalam menu sehari-hari. Karena itu, kemampuan keluarga menghasilkan cabai sendiri dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar.
“Gerakan ini tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial, tetapi harus mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih produktif dan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri,” tegas Merry. (hep)









