METROklik – Akses masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) terhadap layanan keuangan semakin luas. Namun, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengelola produk keuangan secara bijak.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara (Sulutgo) Robert Sianipar mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan penting di tengah perkembangan produk dan layanan keuangan yang semakin kompleks.
“Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan nasional tercatat 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen,” ujarnya pada puncak Peringatan Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan Provinsi Sulut, Kamis (20/8/2026).
Lanjut dia, di Sulawesi Utara, tingkat literasi keuangan berada sedikit di atas rata-rata nasional, yakni 69,98 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 94,37 persen.
“Artinya, akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah tinggi, namun masih perlu terus diimbangi dengan peningkatan pemahaman dan kemampuan dalam menggunakan produk dan layanan keuangan secara bijak,” terang Robert.
Menurutnya, tantangan tersebut semakin besar seiring maraknya pengaduan konsumen, kejahatan digital, serta munculnya berbagai produk keuangan baru, termasuk aset kripto.
Karena itu, perluasan akses keuangan harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi dan perlindungan konsumen. Masyarakat tidak cukup hanya memiliki rekening atau menggunakan layanan keuangan, tetapi juga harus memahami risiko, manfaat, serta cara mengelolanya secara bertanggung jawab.
Sementara itu, data menunjukkan, dari 284,4 juta penduduk Indonesia, sekitar 31 persen atau 88 juta jiwa merupakan generasi muda. Kelompok ini dinilai memiliki posisi strategis karena akan menjadi salah satu pilar utama perekonomian Indonesia di masa depan.
Namun, hasil SNLIK 2026 pelajar dan mahasiswa menunjukkan adanya kesenjangan. Tingkat inklusi keuangan kelompok tersebut mencapai 92,76 persen, sedangkan literasi keuangannya baru 62,72 persen.
“Memiliki rekening saja tidak cukup. Memahami dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan merupakan kunci kesuksesan dan kesejahteraan,” jelas Robert.
Di Sulut, perkembangan budaya menabung di kalangan pelajar menunjukkan tren positif. Hingga Juni 2026, jumlah rekening pelajar mencapai 568.965 rekening, meningkat 10,88 persen atau sebanyak 55.817 rekening dibandingkan Juni 2025.
Sementara nominal tabungan pelajar mencapai Rp218,08 miliar, tumbuh 7,51 persen atau sekitar Rp15,23 miliar secara tahunan.
Capaian tersebut diapresiasi, namun OJK menilai tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan jumlah rekening. Yang lebih penting adalah memastikan para pelajar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan mengelola keuangan secara bijak agar budaya menabung tumbuh secara berkelanjutan. (hep)









