METROklik — Transformasi digital terus membuka peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Utara untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat akses terhadap pembiayaan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan digitalisasi memberikan ruang lebih besar bagi produk UMKM Sulut untuk menembus pasar nasional hingga global.
Menurutnya, digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan perluasan pemasaran, tetapi juga mendorong pelaku usaha membangun tata kelola bisnis yang lebih baik. Salah satunya melalui pencatatan keuangan yang tertib dan transparan.
Kondisi tersebut dinilai semakin memperkuat kesiapan UMKM dalam mengakses sumber pembiayaan dari lembaga keuangan, baik perbankan maupun nonbank.
Di sisi lain, perkembangan digitalisasi UMKM Sulut juga tercermin dari semakin luasnya penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai sarana pembayaran.
“Hingga Juli 2026, QRIS telah digunakan oleh 388 ribu merchant di Sulawesi Utara, dengan 95,36 persen di antaranya merupakan UMKM,” kata Joko.
Besarnya penggunaan QRIS tersebut turut tercermin dari nilai transaksi. Hingga Juli 2026, transaksi UMKM Sulawesi Utara melalui QRIS telah mencapai Rp3,5 triliun.
Joko menilai, angka tersebut menunjukkan QRIS bukan sekadar instrumen untuk mempermudah proses pembayaran. Lebih jauh, QRIS menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk terhubung dengan ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang semakin berkembang.
Dengan transaksi digital yang semakin luas, pelaku UMKM juga memiliki peluang untuk membangun rekam transaksi usaha yang lebih baik. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor pendukung dalam memperkuat akses terhadap layanan keuangan formal.
BI Sulut, kata Joko, akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi digital UMKM. Kolaborasi tersebut diarahkan agar digitalisasi tidak berhenti pada penggunaan teknologi pembayaran, tetapi mampu mendorong UMKM menjadi lebih produktif, adaptif dan berdaya saing.
“Semangat Mapalus atau gotong royong diharapkan melahirkan UMKM yang semakin adaptif, inovatif dan berdaya saing sehingga mampu tumbuh, naik kelas, serta menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” ungkap Joko. (hep)









