METROklik – Penguatan konektivitas ekonomi dan keuangan digital (EKD) antarnegara dinilai membuka peluang lebih besar bagi pariwisata, ekonomi kreatif dan UMKM di Sulawesi Utara.
Salah satu langkah yang didorong Bank Indonesia bersama para mitra adalah Indonesia Travel Pack, panduan digital yang dirancang untuk membantu wisatawan mancanegara memperoleh informasi destinasi, konektivitas telekomunikasi hingga pilihan layanan pembayaran selama berada di Indonesia.
Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam rangkaian hari ketiga Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026 (FEKDI x IFSE 2026) di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (26/9/2026).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan, Indonesia Travel Pack diharapkan dapat mendorong peningkatan belanja wisatawan mancanegara di Indonesia.
Menurutnya, panduan digital tersebut juga menyasar wisatawan dari negara yang belum tercakup dalam layanan QRIS Antarnegara. Dengan demikian, wisatawan tetap dapat memperoleh informasi mengenai pilihan pembayaran yang dapat digunakan selama bertransaksi di Indonesia.
“Indonesia Travel Pack membantu wisatawan dari negara yang belum tercakup dalam layanan QRIS Antarnegara dalam memilih layanan pembayaran yang akan digunakan untuk bertransaksi selama berada di Indonesia,” ujar Aida.
Potensi pasar wisatawan mancanegara memang cukup besar. Data yang disampaikan BI mencatat, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 15,39 juta kunjungan pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 60,23 persen berasal dari negara di luar cakupan QRIS Antarnegara.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperluas konektivitas pembayaran digital lintas negara.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menekankan, kemudahan pembayaran menjadi salah satu faktor penting agar tingginya kunjungan wisatawan mancanegara dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar, khususnya bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.
“Sinergi Bank Indonesia dalam penguatan sistem pembayaran, Kemenkomdigi dalam penyediaan infrastruktur, serta Kemenekraf dalam promosi perdagangan dan pariwisata diperlukan untuk membuka peluang usaha yang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM Indonesia,” kata Irene.
Sementara itu, Peluang pengembangan QRIS Antarnegara juga terbuka lebar di Sulawesi Utara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulut hingga Juli 2026 mencapai 64.651 wisatawan.
Menariknya, 85,40 persen di antaranya berasal dari negara yang telah tercakup dalam layanan QRIS Antarnegara.
“Angka tersebut menunjukkan besarnya basis wisatawan yang sudah memiliki akses terhadap pembayaran lintas negara, sehingga berpotensi mendorong perluasan transaksi digital di berbagai destinasi wisata dan pusat aktivitas ekonomi di Sulut,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut, Joko Supratikto.
Dia mengatakan, potensi itu juga terlihat dari transaksi QRIS Antarnegara di Sulut. Pada Agustus 2026, transaksi QRIS Antarnegara tercatat mencapai sekitar Rp2,4 miliar.
Nilai transaksi tersebut menunjukkan bahwa konektivitas pembayaran lintas negara tidak hanya memberikan kemudahan bagi wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM, ekonomi kreatif dan sektor pariwisata.
“Karena itu, penguatan penerimaan QRIS Antarnegara di destinasi wisata, pusat kuliner, transportasi hingga sentra UMKM dinilai penting agar belanja wisatawan mancanegara semakin banyak berputar di Sulawesi Utara,” terang Joko. (hep)









