Kadis Ketahanan Pangan Sulut Rahel Rotinsulu, saat memberikan keterangan pers
METROklik – Tekanan harga cabai rawit merah di sejumlah daerah menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara.
Respons cepat dilakukan dengan memperluas distribusi pasokan melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) Tahap II.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara, Rahel Ruth Rotinsulu, mengatakan FDP Tahap II merupakan bentuk respons cepat TPID menghadapi tekanan harga cabai yang terjadi di seluruh daerah yang menjadi wilayah pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Menurut Rahel, kondisi tersebut membutuhkan kerja bersama lintas instansi, terutama karena stabilitas harga pangan tidak dapat ditangani oleh satu lembaga saja.
“Ini merupakan bentuk respons cepat TPID Sulawesi Utara dalam menghadapi tekanan harga cabai yang terjadi di seluruh kabupaten/kota IHK,” ujar Rahel.
Ia menilai perluasan distribusi dalam FDP Tahap II sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antarinstansi dalam menjaga stabilitas harga pangan.
Melalui koordinasi antara Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, Pemerintah Provinsi Sulut, pemerintah kabupaten/kota serta Satgas Pangan Polda Sulut, pasokan cabai rawit merah dari luar daerah didistribusikan ke sejumlah pasar yang menjadi titik sasaran.
Pada FDP Tahap II, distribusi diperluas menjadi lima pasar di empat daerah IHK, yakni Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan di Manado, Pasar Airmadidi di Minahasa Utara, Pasar Amurang di Minahasa Selatan serta Pasar 23 Maret Kotamobagu.
Rahel menegaskan, sinergi tersebut penting untuk memastikan intervensi pasokan tidak berhenti pada proses mendatangkan komoditas, tetapi juga dikawal hingga sampai kepada pedagang dan konsumen.
Menurutnya, tantangan stabilitas pangan Sulut tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga kondisi cuaca dan ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain.
Karena itu, intervensi jangka pendek melalui FDP perlu berjalan bersamaan dengan langkah jangka menengah dan panjang berupa penguatan produksi lokal dan ketahanan pangan daerah.
“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada intervensi jangka pendek, tetapi juga berlanjut pada penguatan produksi lokal dan ketahanan pangan daerah,” kata Rahel.
Dengan sinergi lintas instansi tersebut, TPID Sulut berupaya menjaga pasokan tetap tersedia sekaligus meredam tekanan harga cabai rawit merah di tengah kondisi pangan yang masih menghadapi tantangan. (hep)









